Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

KH.ZAINI GHANI AL BANJARI- GURU SEKUMPUL

Profil Abah Guru
Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H Rahmah.
Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.
Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.
Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.
Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan “formal” masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa itu antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Pada masa ini beliau sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.
Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat itu adalah tokoh-tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Walaupun saya tidak begitu mengenal secara mendalam tetapi kita mengenal Ulama yang tawadhu KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, ingin rasanya berguru dan bertemu muka ketika masih hidup. Syaikh Seman Mulya adalah paman beliau yang secara intensif mendidik beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.
Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al-marhum KH. Hanafiah Gobet). Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.
Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwani Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar. Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumblah kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah).
Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.
Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita-cerita itu.
Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga, ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahnda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal
ini, “bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Beliau langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.
Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan: Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi “bodyguard’ beliau. Beliaupun langsung pulang ke rumah.
Pada usia 9 tahun pas malam jum’at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum’at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong.
Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut.
Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi “bakarmi” (orang yang keluar sesuatu dari duburnya).
Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang. Karena itu, beliau menolak undangan Soeharto untuk mengikuti acara halal bil halal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau tidak tepat.
Pada hari Rabu 10 Agustus 2005 jam 05.10 pagi beliau telah berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun.
Salam Hormatku kepada Abah Guru.

Jumat, 16 Maret 2012

Sang Maestro Lagu Kasidah PROF. H. AHMAD BAQI

Kenal Lagu ini  “Selimut Putih “

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Terbujur badan dan kedinginan
Tak ada lagi gunanya harta
Kawan karib sanak saudara
Jikalau ada amal di dunia
Itulah hanya pembela diri
Janganlah mahu dikenang-kenang
Engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tahu diuntung
Sebelum masa lkerenda diusung

Datang masanya insaflah diri
Selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berbaktilah hidup sepanjang zaman

Lagu ini sempat membuat heboh di Malaysia  tahun 1974  dimana saat itu Radiao TV Malaysia melarang secara Nasional memutar Lagu tersebut .Lagu karangan  Ustaz Haji Mohammad Ghazali Hasan (51 tahun), Ketua Mubaligh Islam Sumatera Utara, ( 1902 ) dan Prof Ahmad Baki anak seorang ulama terkenal di Medan  sekaligus menata musiknya (Aranger) ) ,.Lagu ini dinilai menakutkan dan membuat bulu kuduk merinding  dan membuat orang tidak semangat hidup .Pelarangan ini membuat banyak orang protes karena menganggap hal itu tidak masuk akal ,tapi kerajaan malaysia tetap dengan sikapnya .Ditahun 1990an  lagu di rekam ulang oleh Nasyd Nada Murni ( kemudian berganti menjadi Raihan dan Saujana )  dari Kelompok harakah Al Arqam di Malaysia .
Siap kedua tokoh yang membuat heboh kerajaan Malaysia saat itu?
Dia adalah tokoh agama sekaligus tokoh seni tanah Melayu- Medan ( Sumtera Utara)Lagu  itu sangat terkenal di tahun 1970an terutamanya peminat lagu Kasidah (sekarang Nasyd) yang berisikan lirik-lirik da’wah.  Duet ini adalah Ustaz Haji Mohammad Ghazali Hasan (51 tahun), Ketua Mubaligh Islam Sumatera Utara, ( 1902) dan Ahmad Baki putra Abdul Majid, Mufti Kesultanan Deli dan seorang guru ngaji .Bersama  Grup Al Suraya yang ia dirikan  dengan Vokalis Asmidar Darwis menjadi Grup Kasidah Modern yang banyak penggemarnya saat itu  .
 Maestro Seni tanah Melayu  kurang dikenal di Negaranya sendiri tapi ia tidak peduli malah ia membela tumpah darahnya .Katanya  “lebih baik hujan  batu dinegri sendiri dari pada hujan emas dinegri orang (sangat Nasionalis )
Tapi “lucunya “  Ahmad Baqi lebih dihargai di negeri orang daripada negeri sendiri. Ahmad Baqi mendapat gelar Profesor Honoris Causa di bidang musik dari Pemerintah Malaysia tahun 1978. Gelar itu diberikan Datuk Asri, Menteri Besar Malaysia, setelah lagu “Selimut Putih”, yang bercerita tentang kematian dan membuat merinding seantero pelosok ranah Melayu, pertama kali dikeluarkan tahun 1977. Delapan belas tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, pemerintah Malaysia memberinya gelar Datuk yang diberi oleh Menteri Besar Sabah. Dua tahun sebelum wafat, ia diberi gelar ASDK (Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu) oleh kerajaan Sabah Malaysia (1997). Kali itu, Ahmad Baqi yang lahir pada 17 Juli 1922, sudah berumur 75 tahun. Di Brunei, Ahmad Baqi ditawari untuk tinggal di sana. Fasilitas apa pun akan diberikan pemerintah Brunei bila Ahmad Baqi mau menularkan ilmu dan berkreasi di negeri kaya minyak itu. Tawaran itu ditampik Ahmad Baqi dengan halus kepada Awang Haji Tua, seorang pengurus Kerajaan Brunei yang datang kepadanya pada 1982. Ahmad Baqi sendiri datang ke Brunei ketika Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah sedang berulang tahun yang ke-37. “Lebih baik hujan batu di negeri daripada hujan emas di negeri orang,” kata Ahmad Baqi waktu itu. Tidak ada satupun yang bisa mengukur kadar nasionalisme yang dimiliki Ahmad Baqi. Maestro musik padang pasir dunia asal Mesir, Ummi Kaltsum pun mengetahui sosok Ahmad Baqi. Pesuling itu juga meminta Ahmad Baqi untuk mengajar musik padang pasir dan pindah ke Malaysia. Ahmad Baqi menolak mandah. Tapi Mesir tetap memperhatikan Ahmad Baqi. Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir, memberinya hadiah berupa Ganun, alat musik petik khas Mesir yang mempunyai 78 senar. Ganun itu diserahkan di kampus Universitas Islam Sumatera Utara. Ganun itu dikuasai Ahmad Baqi hanya dalam waktu setahun. Itu di samping keahliannya memainkan dengan fasih alat musik lain seperti biola, gambus, dan akordion. Seribu Lagu
Ahmad Baqi sendiri dikatakan anaknya mengaku mempunyai patron dan akar musik padang pasir dari Mesir. Akar Mesir rupanya tidak mudah untuk dicerna oleh personil musik Ahmad Baqi sendiri. Zubeiruddin, pemain keyobard Ahmad Baqi, mengaku masih susah untuk membawakan lagu “Al Wathan (Negeri)”. “Musiknya asli diambil dari Mesir,” kata Zubeir.
Lagu-lagu Ahmad Baqi memang kental dengan unsur religi, terutama ruh Islam. Simaklah lirik “Selimut Putih” yang fenomenal itu, Bila Izrail datang memanggil Jasad terbujur di pembaringan Sekujur tubuh akan menggigil Sekujur badan akan kedinginan
Tapi, kontemplasi yang dilakukannya bukan hanya dari segi pemahaman terhadap kandungan Islam. Optimisme disertai pengendalian diri juga digariskan dalam lagu-lagunya. Dengarlah dalam lagu “Cita-cita” yang dipopulerkan Hasmidar (Asmidar, red) Darwis tahun 1970.( di Kutif dari beberapa sumber )

Husin Hendy /Rep

Senin, 05 Maret 2012

MANJADAWAJADDA (usaha sungguh-sungguh akan berhasil)

Seorang guru (ustadz) masuk kelas ia membawa parang tumpul yang karatan dan sebilah kayu keras .Kemudian ia memotong kayu itu dengan sekuatnya ,terlihat ia mengalami kesusahan tapi ia terus memotong kayu itu dan akhirnya kayu itupun putus dua .Adegan guru memenggal kayu dengan parang tumpul di hari pertama masuk sekolah itu merupakan potongan dari film Negeri lima menara .Film yang syarat pembinaan mental buat anak-anak muda agar jangan mudah mundur dan pantang menyerah.

Parang tumpul yang karatan itu menggambarkan bahwa dalam kondisi apapun setiap orang harus berusaha tanpa mengenal kata susah dan alasan yang menjatuhkan mental .Dan Kayu keras yang putus dua oleh parang tumpul itu menggambarkan apa saja bisa terjadi asal jangan mengenal kata menyerah.

Manjada wajadda (siapa bersungguh-sungguh akan berhasil ) ini juga terjadi dengan teman sekaligus tetangga saya .Berbekal ke ahlian membuat tahu tek-tek (kadang disebut juga tahu goreng ) ia merantau ke Kaltim (tarakan ) kemudian ia berjualan tahu tek-tek dorong . Dan sekarang ia tetap berjulan tahu tek-tek tapi ia sudah memiliki rumah dengan harga 250 juta dengan style modern dan dapat menyekolahkan anak-anaknya disekolah negri.

Ada lagi teman saya yang memilki ke ahlian ilmu komputer,program disign dan sekarang memiliki perusahaan dengan omset puluhan juta perbulan dengan cabang di berbagai tempat dengan nama Bornis .Menurut pemilik Bornis ini ia mengawali semua usahanya dengan kamera pinjaman dan Video shoting pinjaman.Tapi ia pantang menyerah dan fokus dan sekarang ia menggapai kejayaan itu di usia muda. Belum puas ,ada lagi contoh, teman saya yang guru ngaji asal Ponpes tanah jawa. Pertama ia mengajar di Al Irsyad Tarakan ,tapi tidak ada perkembangan. Kemudain ia pindah mengadu nasif le Tawau (Sabah Malaysia)

Disana ia mengajar ngaji secara privat dan berjualan kerupuk dengan harga seringgit satu Plastik. Ia terus melakukan itu dengan sabar sambil mencari peluang untuk merubah keadaan .Itu terjadi dari tahun 1995 sampai tahun 2002. Dan sekarang ia sudah punya istri di Malaysia , anak dan rumah serta sebuah mobil untuk mengantar ia melakukan kegiatan mengajar dan sekaligus menjadi Imam disalah satu Masjid di sana. Kabar lainnya yang saya dengar ia telah menjadi warga Negara negri jiran itu.

Bayangkan kalau ia tidak berani merantau dan sedih dengan sekolahnya yang hanya dari pasantren. Kondisinya bisa jadi tidak berubah dan hanya menjadi tokoh agama dikampungnya. Imformasi terbaru beberapa minggu saat saya menulis tulisan ini ,ia bersama-sama rekannya yang peduli dengan perkembangan agama berencana buka ponpes disana.

Ketiga teman kita diatas sebenarnya memiliki ilmu yang maha dashsyat yang terpendam dihati dan menjadi tenaga yang maha dahsyat untuk menghadapi tantangan hidup.Ilmu itu bernama Manjaddawajadda,siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.

Contoh lainnya ,anak kecil usia 7 sampai dengan 10 bulan berusaha mati-matian untuk belajar berjalan. Caranya,ia terlebih dahulu belajar berdiri dan usahanya kadang membuat ia cedera tapi ia terus berusaha dan itu membutuhkan waktu yang lama.

Setelah ia mampu berdiri kemudian ia belajar berjalan dan kembali usaha itu membuat ia kembali terjatuh dan membuat ia menangis. Berhentikah ia belajar berjalan ? tidak..! ia terus belajar berjalan sampai ia mampu berjalan.Walau dari belajar berdiri dan belajar berjalan itu ia mengalami jatuh dan merasa sakit,ia terus melakukannya sampai ia meraih keinginnya .

Pengusaha Top baik sekala dunia dan dalam negri yang sukses juga memilki ilmu manjaddawajadda ini walau mereka tidak mengetahui mentra manjadawajadda itu sendir.Tapi ruh itu mengrsital dan menjadi benteng dalam mengahrungi kerasnya dunia usaha.

Mari kita kaji sedikit kalimat usaha sungguh-sungguh maka akan berhasil :

1.Usaha sungguh-sungguh, kalimat ini memberikan signal bahwa dalam berusaha pasti ada batu sandungan, bukit tinggi,cadas ,lorong gelap dan tebing yang curam. Ini merupakan proses standar dalam menuju sukses.Siapapun dia kalau ingin berhasil dalam usaha apa saja pasti mengalami proses standar ini .Nah..dalam proses mengalami bantu sandungan ini kadarnya yang beda-beda alias ada yang kadar kecil dan ada yang besar. Disinilah usaha sungguh-sungguh atau mantra manjaddawajadda itu mengambil peran, ia tidak akan mundur dan terus maju betapun luar biasannya batu sandungan itu. Kemampuan bertahan dalam situasi sulit ini sangat penting karena (mengutif bahasa AA Gym) kemampuan kita mengolah masalah selalu terlambat dikarena derasnya masalah yang timbul dalam berbagai bentuknya. Jurusnya hanya satu bertahan sekuatnya sambil mencari jalan keluar.

2.Berhasil, kata ini dapat diartikan dalam dua dimensi

a.Berhasil dalam arti ia mampu bertahan walau ujian itu mengalami proses panjang menuju titik

akhir .

b.Berhasil ,ia mampu mencapi titik tujuan dengan sangat cepat dan mampu menghalau ujian dengan sangat baik.

Husin Hendy

Pendiri TPQ Al Hikam

Senin, 31 Oktober 2011

AKU SEPERTI PERASANGKA HAMBAKU

“Manusia mengejar rasa”sebuah kata bijak dari  sakti  ,personil sheila on 7 yang sekarang sudah berubah total menjadi juru da’wah.Sakti yang dulu  berlimpah ketenaran ,  uang dan memiliki penggemar  hampir di sentro Indonesia dan Negri tetangga Malaysia   sudah tidak mengejar “rasa”lagi, ia mencurahkan waktunya untuk  agama.
Rasa ,katanya   bila dituruti  maka ia akan terus membuntuti  misalnya bila andapunya rasa (ingin)  punya mobil  dan kemudian berhasil anda miliki pada suatu saat ia akan berubah dan  ingin mobil yang baru lagi.Ketika anda punya HP maka pada suatu saat anda akan menukarnya dengan HP baru dengan mereka atau pitur yang menurut anda lebih bagus. Terus seperti  itu tanpa anda sadar bahwa anda telah tertipu dengan rasa (keinginan ) itu .Terjebak dalam lingkaran “rasa “ini sangat membahayakan karena sulit sekali kita keluar dan biasannya orang seperti ini akan mencari alasan untuk membenarkan keinginnya. Misalanya begini,mumpung ada uang ,harus ikut perkembangan jaman atau agar tidak ketinggalan teknologi.Macam-macam  alasan di cari untuk membenarkan keinginannya .
Jauhnya  kita dari ALLAH  memang kebanyakan kita di permainakan oleh “rasa’ (keinginan )  tersebut sehingga rasa itu menjadi pagar yang tinggi yang kemudian mengeras dan menebal sehingga kita tidak dapat keluar-keluar.
Tebalnya ,membuat kita tidak dapat melihat
Kerasnya membuat kita tidak dapat menjebolnya .
Tapi ada perkataan yang dapat menjadi senjata ampuh bila diyakini seyakin –yakinnya .Tidak ada gading yang tidak retak.Air  menetes dapat menembus batu setebal apapun.Manjadawajadda,usaha sungguh-sungguh  akan menoreh hasil.Dan banyak lagi ungkapan yang  memilki arti “bahwa tidak ada yang mustahil  dalam dunia ini”
Betapa banyak contoh usaha sungguh-sungguh membuahkan hasil   walau itu hanya urusan dunia semata .Terus gimana urusan agama,jelas........ lebih sangat mudah lagi karena dibelakang kita ada ALLAH yang menjadi  beking ( penyelamat ) .Tapi  kebanyakan kita terpropokasi dengan kata “susah” sehingga yang terjadi ya....,susah beneran . Ingat hadist qudsi yang berbunyi  Ana 'Indazanni 'abdi, AKU SEPERTI PERASANGKA HAMBAKU  (BILA BAIK MAKA IA MENJADI BAIK ,BILA BURU MAKA YANG TERJADI BURUK).
Tapi kita selalu  ragu denga ALLAH dan takut  membuat keputusan ,contohnya ,
Ah.. terserah ALLAH deh..kalau mau bagus ya baguslah
Atau seperti ini,  Gue sih takdirnya seperti ini,mau apa lagi ,ALLAH huyarobbi .....seolah tidak  ada kekuatan lain yang dapat merubah kondisi kita.Mau jelas ,lihat penggalan .QS surat Al Mu’min ayat 60 “berdoalah niscaya kukabulkan “,itu janji ALLAH dan tidak mungkin ALLAh ingkar  janji  ,inga itu TI-DAK-MUNG-KIN !,kecuali anda ragu maka  terbuktilah ayat qudsi diatas .

Kita kembali  membahas "rasa",  Nah...... ketika keinginan (rasa) untuk berbuat baik  itu menyelinap maka segeralah melakukan kebaikan  ,jangan di tunda .Sama seperti ketika keinginan anda membeli sesuatu dan segera mengeluarkan uang untuk mendapatkanya maka barang itupun anda miliki,walau semahal apapun dia.
Kembalilah ke pangkuan ALLAH ,sahabat........
  





 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates